Janda berusia empat puluh‑tiga tahun itu, Maya, sudah lama menyesuaikan diri dengan rutinitas yang berulang‑ulang. Sejak suaminya meninggal secara mendadak tiga tahun lalu, rumah kecil di pinggir kota menjadi saksi bisu kesendiriannya. Pagi‑pagi ia menyiapkan sarapan, menyiapkan berkas‑berkas kantor, dan melanjutkan hari dengan rapat‑rapat daring yang terasa semakin hampa. Kadang‑kadang ia menyalakan radio lama di dapur, menunggu suara musik jazz yang mengalun lembut, mengusir rasa sepi yang menempel pada dinding-dinding rumah.